online roulette_Baccarat play and rules_Indonesian gambling

  • 时间:
  • 浏览:0

‘Tong, puBlackjack AlgorithBlackjack AlgorithmmlBlBlackjack AlgorithBlackjack Algorithmmackjack Algorithmsa aku habis nih, lupa beli pulsa tadi. Minta pulsa dong, sms sekali aja boleh?’ (padahal seminggu bisa lebih dari 5 kali begini)

‘Cieeeeh yang habis liburan manjah ke Bali! Oleh-oleh dong, pie susu sekardus!’ (dan ini pas pulang serius ditagihin)

Dan kemudian doi bakal amnesia permanen dan mengulang lagi usaha minta ditombokin di kemudian hari. Dua ribu per hari, dikali 10 hari aja nilainya sudah mencapai 20 puluh ribuan. Duit segitu bisa kamu pakai buat isi bensin motor sampai penuh, bahkan luber lho. Ya, sebagai anak muda yang penghasilannya masih serba pas-pasan buat menjalani hidup dan nabung, sekumpulan receh buat nombokin si teman itu sangat berarti lho.

Siapa sih yang nggak pernah ngalamin, lupa beli pulsa dan tiba-tiba harus menghubungi seseorang dalam keadaan darurat? Pasti nyaris semua orang pernah ya. Boleh sih, minta pulsa. Sesekali. Jangan sampai berkali-kali dan sampai saraf muka temanmu yang memberi ponsel datar tanpa ekspresi (saking seringnya). Gengges tauk!

Boleh kok, nebeng sesekali. Atau beberapa kali, dengan catatan kamu menawarkan untuk traktir dia makan atau inisatif beliin bensin. Tapi kalau sudah berkali-kali, bahkan kadang ngelunjak sampai minta jemput segala tanpa inisiatif nawarin makan atau patungan bensin, ini sih namanya mau enak sendiri.

Ditagihin oleh-oleh, padahal berangkatnya bujet mepet via www.pexels.com

Sekali-kali sih oke, tapi kalau keseringan mah kebangetan! Ingat, teman sejati nggak akan sungkan membayar penuh, bahkan kalau perlu membayar lebih demi menghargai jerih payah temannya. Bukannya malah minta diskon apalagi gratisan mulu!

Bicara soal minta tolong, ada beberapa sikap yang sebaiknya nggak dilakukan kalau kamu  memang sungguh seorang teman sejati. Meski terkesan sepele, ada batasan-batasan tertentu yang sebaiknya nggak kita langgar agar teman nggak merasa risih. Utamanya saat kamu minta sesuatu yang tanpa sadar suka nggak kira-kira dan berulang kali, misalnya minta icip makanan atau minta tebengan pulang. Bukannya nggak boleh meminta sesuatu, cuma sebaiknya pastikan yang kamu lakukan itu nggak sampai taraf menyebalkan!

‘Ihhh, apaan tuuuh? Enak kayaknya, bagi dong, dikit ajah!’

‘Tong, kamu mau kemana? Aku nebeng ya, Tong. Kan searah!’

Hayo, kira-kira adakah yang sering jadi korban teman yang sukanya minta-minta ini? Atau jangan-jangan kamu sendiri nih suka nggak sadar sama kelakukan yang sepele tapi kalau ditumpuk-tumpuk ini jadi super menjengkelkan. Ingat, teman sejati nggak akan segan-segan menolong, mengangkat dan menghargai usaha temannya. Bukannya malah menjatuhkan apalagi sampai merugikan meski kesannya remeh temeh doang. Semoga kamu nggak pernah melakukan hal-hal ini ya!

‘Sis, boleh tethering nggak? Sebentar aja, ada yang penting nih…’

‘Waduh, enak nih bakso buatan kamu, Tong! Aku tambah dua mangkok lagi ya, tapi kasih diskon…harga temen ya!’

‘Cieeeeh (entah kenapa kata cieh ini lama-lama berunsur negatif) yang baru jadian/ulang tahun/resign dari kerjaan. Makan-makan dong, hayuk!’

Mungkin terkesan sepele, tapi sebagai anak kost yang uang bulanan atau gajinya masih pas-pasan, ditagih traktiran pas ulang tahun, lulus kuliah, apalagi resign kerja itu kadang suka bikin risih. Nggak masalah kalau yang bersangkutan menawarkan sendiri, tapi kalau teman-temannya yang merengek-rengek melulu, sampai kadang teman nggak enak dan akhirnya ngeluarin duit traktir kamu. Aduh, apa kamu nggak kasihan, membebani temanmu hanya gara-gara celetukan yang bikin posisi doi sulit, karena takut disangka pelit?

‘Wah, duitku gede nih! Kamu ada 2000-an perak nggak? Eh, genapin pakai duitmu dulu deh ya, nanti kuganti!’

Dan ternyata si teman lucu ini malah asyik snapchat-an atau IG story-an. Parahnya lagi, asyik buka channel Youtube favoritnya. Ya, semoga kita senantiasa dijauhkan dari jenis teman yang kadang suka lupa diri begini, dan amit-amit jangan sampai dirimu melakukan hal ini.

Suka nggak asing dengan kalimat ini? Gaes, minta icip sesekali itu nggak dosa. Tapi kalau sudah berulang kali, bahkan saat teman nggak ada gelagat nawarin, bisa jadi malah bikin temanmu risih dan nggak enak. Kamu mungkin bakal mikir, ‘Alah gitu dong, pelit!’ tapi ingat, kamu nggak tahu, mungkin saja si dia beli jajan dengan receh terakhir di dompetnya ditambah ada serbuan teman lain yang minta icip. Sepiring cuma 5000 perak, yang minta icip 5 orang, lah terus temanmu makan sisanya?

Manusia memang terlahir sebagai makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendirian. Tentu seseorang butuh satu atau dua orang teman bahkan lebih, agar hidupnya lebih berwarna dan ia mampu memenuhi kebutuhannya. Ya wajar sih, kalau kita meminta tolong bantuan teman saat sedang membutuhkan. Toh memang itu ‘kan gunanya teman yang berfaedah. Tapi yang nggak wajar itu kalau sikap ‘minta’ ini itu jadi berlebihan dan cenderung merugikan sampai mengarah ke sikap memanfaatkan. Waduh!

Wahai warganet yang budiman, agaknya budaya nodong oleh-oleh ini harus segera dihapuskan dari aturan pertemanan. Pasalnya kadang sudah sampai pada tahap yang nggak masuk akal. Jelas-jelas temanmu mudik karena ada urusan serius di kampung, tapi kadang masih aja ada yang usil minta oleh-oleh. Belum lagi kalau ada yang getolnya minta titip beli, padahal ujung-ujungnya bilang ‘nanti diganti pas kamu pulang sini’. Unch banget deh, teman yang hobi begini.